Selasa, 28 April 2009

Lintas Alam Raya 2008 ( Sukuh - Tawangmangu )


PASCAL adakan Lintas Alam Raya
 


Mahasiswa Pecinta Alam "PASCAL" (MPA "PASCAL") sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer "Sinar Nusantara" (STMIK Sinus) mengadakan kegiatan Lintas Alam Raya (LIAR) pada Hari Sabtu, tanggal 11 April 2009 bertempat di daerah Karanganyar, Jawa Tengah. 

Kegiatan tersebut adalah merupakan progam kerja dari MPA "PASCAL" kepengurusan tahun 2008/2009. Dengan mengusung tema "Hidup Yang Indah adalah Hidup bersama masyarakat dan Alam", para peserta LIAR yang terdiri dari berbagai Organisasi Pecinta Alam (OPA) tersebut menyusuri jalur Candi sukuh, kemudian menuju Tlogo Mardiko dan terakhir sampai di lokasi Grojogan Sewu, Tawang Mangu. 

Dalam kegiatan tersebut selain lintas alam peserta juga di bekali dengan pengetahuan tentang alam dan juga disisipi beberapa permainan outbound. 

Ishaq Maulana selaku ketua pelaksana LIAR menerangkan bahwa kegiatan ini diikuti sebanyak 60 orang peserta yang terdiri dari anggota MPA "PASCAL" sendiri, beberapa mahasiswa STMIK Sinus, perwakilan UKM di STMIK Sinus, GAN Univet surakarta, Brahmamahardika (FKIP UNS), Sangguru (FKIP UMS) dan beberapa OPA serta mahasiswa dari Perguruan Tinggi lain, bahkan ada pula yang dari luar pulau yaitu Lampung. 

Desmon, selaku Humas MPA "PASCAL" mengatakan, kegiatan LIAR ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan para peserta terhadap alam di sekitar dan menjalin silaturahmi antar OPA maupun antar MPA, baik dari STMIK Sinus sendiri maupun dengan Perguruan Tinggi lain. Walaupun acara ini cukup singkat yang utama adalah bagaimana peserta bisa menjalin hubungan kekeluargaan dengan sesama peserta maupun dengan Alam dan masyarakat sekitar, karena bila alam dicintai, maka bencana alampun bisa di cegah. 


 


  

Senin, 27 April 2009

Hari Bumi 2009

PASCAl Ikut Peringati Hari Bumi 2009 Bersama FORPALAS

Tanggal 22 April? Apa yah yang bwt kalian ingat dengan tanggal itu? Yupz…! Betul sekali.. Orang-orang di seluruh belahan dunia pasti memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 22 April. Tidak hanya orang-orang yang tergabung dalam organisasi peduli lingkungan ikut memperingati tetapi anak sekolah dari bangku SD tahu dan ikut melakukan aksi.

Hari Bumi menandai hari jadi lahirnya sebuah perubahan pergerakan kepedulian terhadap lingkungan tahun 1970-an Diprakarsai oleh seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson. Saat itu ia melakukan protes secara nasional terhadap kalangan politik terkait permasalahan lingkungan. Ia mendesak agar isu-isu tersebut dimasukkan dalam agenda nasional.

Hari Bumi pada tahun 1970 telah menghasilkan persatuan kalangan politik yang sebenarnya jarang terjadi, yang berasal dari kaum republik maupun demokrat, dan berbagai pencampuran kalangan lainnya. Hari Bumi pertama menjadi awal terbentuknya United States Environmental Protection Agency/US EPA (sebuah badan perlindungan lingkungan Amerika) dan juga sebagai langkah awal menuju lingkungan dengan udara dan air yang bersih, serta perlindungan terhadap mahkluk hidup.

Untuk memperingati hari bumi ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda untuk tiap negara maupun kota. Indonesia adalah bangsa yang menghormati alam, terbukti pada kekayaan sejarahnya di masa lampau, serta berlimpahnya hutan yang ada di alam sebelum tahun 1950-an yang sangat luas sekali. Seiring dengan berjalannya waktu, kita terbentuk menjadi bangsa yang tidak lagi memperhatikan sekitar, kita menjadi bangsa yang egosentris. Apa yang terjadi bagi bumi kita ini? Bumi marah terhadap ulah manusia yang seenaknya tidak menghormati dan menjaga lingkungan ini. di mana-mana terjadi penebangan liar, pembangunan gedung di atas lahan serapan air, polusi udara berkadar tinggi, sampah industri yang tidak diolah, dsb. Semua ini merusak keseimbangan yang ada pada alam, hal inilah yang menyebabkan alam menjadi tak terkendali.

Sering sekali kita menggunakan energi listrik secara berlebihan tanpa mempedulikan nasib generasi kita ke depannya. Penggunaan listrik untuk laptop/ komputer, televisi, handphone, AC, mesin-mesin industri dan media elektronik lainnya. Penggunaan kendaraan bermotor telah menyumbangkan gas emisi dan karbondioksida lebih dari 1 kg untuk tiap liter per motor. Apakah hutan-hutan dan tumbuhan mampu untuk mendaurnya dalam proses fotosintesis? Efek rumah kaca yang sudah semakin menjamur di dunia ini memberi pengaruh yang lebih banyak bagi pemanasan global.

Terutama bagi para perokok telah sangat setia dalam berpatisipasi untuk menyumbangkan asap beracun bagi kesehatan perokok aktif maupun pasif. Apa yang dapat kita kontribusukan sebagai seorang mahasiswa/i untuk membenahi kerusakan yang telah terjadi? Mulailah dari hal yang paling kecil dengan membuang sampah pada tempatnya, menghemat dalam penggunaan kertas dan plastik, mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan bermotor, hemat dalam menggunakan energi listrik, dan bagi perokok untuk mencoba berhenti merokok. Semua itu memang tidak merubah dunia, namun setidaknya menjadikan lingkungan tempat kita tinggal menjadi lebih nyaman. Dalam memperingati hari bumi kita mestinya harus melihat bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya di hutan tetapi juga terjadi disekitar tempat tinggal kita, maka kesadaran akan pentingnya lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan sekarang juga.



Penghijauan to Sragen

Pendakian Gunung Lawu 2008

Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous.


Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Pendakian

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).

Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya gag nguatin untuk pemula.

Misteri gunung Lawu

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Keraton Yogyakarta.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.
Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.

Legenda gunung Lawu

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa agama islam berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Pendakian Menuju Puncak Gunung Lawu Angkatan VII
MAHASISWA PECINTA ALAM PASCAL STMIK SINAR NUSANTARA


Peserta
  • Megawati
  • Iskak Maulana
  • Burhan
  • Rita
  • Ajik
  • Dwi
  • Hari Shola Adha
  • Danan
  • Wiwin

Pendamping :
  • Adang Wiyoto
  • Nur Hidayat
  • Nur Cholilah
  • Iwan Ady Prabowo
  • Airlangga Bagus Dewabrata

Dokumentasi :



Donor Darah 2008

Penghijauan Kampus

Touring Pantai Siung

Penjelajahan kali ini adalah mencoba mengexplore keindahan pantai-pantai yang ada di Kota Jogjakarta. Secara saya juga sangat senang dengan yang namanya pantai. Setelah sebelumnya searching di internet tentang pantai-pantai indah Jogja, akhirnya menemukan satu informasi di situs yogyes.com . Di situs tersebut ternyata memuat segala sesuatu yang berhubungan dengan Kota Jogjakarta. nah nge-klik bilik pantai, wuih.. ternyata Jogjakarta tidak hanya memiliki satu pantai yang terkenal dengan nama Pantai Parangtritis (Paris), tetapi ternyata banyak pantai lainnya. dan salah satunya yang membuat saya kepincut adalah sebuah pantai dengan pasir putihnya dan bebatuan karang besar yang menjulang. Pantai ini di sebut dengan nama Pantai Siung.
Menuju Pantai Siung kita akan melewati beberapa pantai indah lainnya. di antaranya pantai Baron, Krakal, Sundak, dan Drini. Saat akan memasuki wilayah rentetan beberapa pantai kita di hadapkan pada dua gate. pada gate yang pertama mengharuskan para pengunjung untuk membayar jika ingin memasuki wilayah pantai
Sesampainya di sana,suguhan keindahan pantai telah menyambut mata-mata kami untuk menikmati keindahan, kemolekan, dan kecantikan pantai siung. Seperti rencana yang telah di buat, sambil menikmati pantai kami akan melakukan tracking dan hiking naik turun karang yang menjulang megah di tiap sisi pantai. sembari berjalan membuat jalur setapak, beberapa kali harus berhenti karena ada gerakan-gerakan tak terkoordinasi yang spontan muncul. Adalah ia pose-pose ala beach boys yang diminta untuk di abadikan (take a unforgotten narsis moment)

Dan di Pantai Siung ini ternyata telah ada jalur tracking climb wat para climber. menaiki dan menyusuri daerah sekitar tebing dan karang, dengan lantai-lantai karang yang sedikit berkerikil sehingga terasa tajam. Pemandangan yang luar biasa, satu sudut pandang lain dari pantai siung ini adalah deburan dan hempasan ombak yang menghantam kemegahan batu-batu karang. Silih berganti dari lapisan ombak yang bertingkat-tingkat menghujam kejam ke batu-batu karang yang tak akan pernah bergeser. Subhanallah,awesome

Dokumentasi Pantai Siung :